Pages

BP. Powered by Blogger.

Sunday, April 22, 2012

Pendudukan Jepang Atas Indonesia

Propaganda jepang dikenal dengan sebutan G3A (nippon cahaya asia, nippon pelindung asia, nipon pemimpin asia).
Jepang semula dianggap sebagai penyelamat bangsa indonesia dari penjajahan asing.
Jepang dianggap sebagai saudara tua yang akan memberikan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.
Jepang tidak berbeda dengan penjajahan belanda yang ingin mengeruk kekayan alam indonesia.
Jugun ianfu adalah nama wanita penghibur pada zaman pendudukan jepang. Wanita pada waktu itu menderita lahir maupunn batin.
Para pria dijadikan romusha yaitu pekerja paksa. Mereka selain harus bekerja sepanjang hari, mereka juga tidak memperoleh makanan dan perawatan, sehingga banyak diantara mereka yang meninggal.
Pada zaman jepang, bidang pendidikan dan pendidikan dan pengajaran memperlihatkan gambaran yang buruk jika di bandingkan dengan masa penjajahan belanda. Jumlah sekolah dasar menurun dari 21.500 menjadi 13.500 dan sekolah lanjutan dari 850 menjadi hanya 20, sementara perguruan tinggi yang berjumlah empat ditutup.
Kehidupan sosial budaya:
a. Pada zaman belanda kehidupan masyarakat di klasifikasikan sebagai berikut
1. belanda sebagai warga kelas satu
2. bangsa timur asing sebagai warga kelas dua
3. pribumi sebagai warga kelas tiga

b. Pada zaman jepang, struktur masyarakat berubah
1. bangsa jepang sebagai warga kelas satu
2. pribumi sebagai warga kelas dua
3. bangsa timur asing sebagai wargaa kelas tiga

Pengertian nasionalisme positif adalah cinta tanah air dan bangsanya tetapi tidak memandang rendah negara lain
Pengertian nasionalis me negatif adalah cinta tanah air dan bangsanya tetapi memandang rendah negara lain
Kedudukan kaum perempuan pada abad ke_19 masih rendah dibandingkan dengan kedudukan laki-laki.
Tradisi pingitan tersebut lebih menonjol pada anak-anak gadis. Pingitan ini tentu saja akan memutuskan komunikasi antara kaum perempuan dan dunia di sekelilingnya.
Kondisi ini diperkuat oleh sturktur sosial masyarakat feodal di jawa yang menempatkan perempuan di bawah posisi laki-laki
Salah satu adat yang berkembang pada saat itu adalah kawin paksa, dan poligami. Tradisi ini tidak hanya berkembang pada masyarakat kelas bawah, tetapi juga dikalangan bangsawan.
Poligami sistem perseliran, dan perceraiaan merupakan kesengsaraan bagi kaum perempuan karena dampaknya adalah mengkondisikan mereka terjeruus kearah prostitusi.
Keterlibatan kaum wanita dalam pergerakan nasional pada mulanya hanya berupa pergerakan sosial yang memperjuangkan kedudukan wanita dalam masyarakat.
Pergerakan emansipasi wanita pada intinya ingin mencapai persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan.
Tokoh emansipasi wanita adalah RA. Kartini. Beliau seorang putri Bupati Jepara. Nama suami dari RA. Kartini adalah Raden Adipati Tirtoyadiningrat.
Buku yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini tentang berbagai buah pikirannya adalah barjudul Habis gelap terbitlah terang.
Pergerakan emansipasi ini dipelopori oleh RA Kartini, dewi Sartika, dan Maria walanda maramis.
Tokoh perempuan yang melanjutkan gerakan emansipasi adalah RA Sabarudin, RA Sutinah Joyopranoto, RR Rukmini, dan Sadikin tondokusumo.

0 comments

Post a Comment

Sunday, April 22, 2012

Pendudukan Jepang Atas Indonesia

Propaganda jepang dikenal dengan sebutan G3A (nippon cahaya asia, nippon pelindung asia, nipon pemimpin asia).
Jepang semula dianggap sebagai penyelamat bangsa indonesia dari penjajahan asing.
Jepang dianggap sebagai saudara tua yang akan memberikan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.
Jepang tidak berbeda dengan penjajahan belanda yang ingin mengeruk kekayan alam indonesia.
Jugun ianfu adalah nama wanita penghibur pada zaman pendudukan jepang. Wanita pada waktu itu menderita lahir maupunn batin.
Para pria dijadikan romusha yaitu pekerja paksa. Mereka selain harus bekerja sepanjang hari, mereka juga tidak memperoleh makanan dan perawatan, sehingga banyak diantara mereka yang meninggal.
Pada zaman jepang, bidang pendidikan dan pendidikan dan pengajaran memperlihatkan gambaran yang buruk jika di bandingkan dengan masa penjajahan belanda. Jumlah sekolah dasar menurun dari 21.500 menjadi 13.500 dan sekolah lanjutan dari 850 menjadi hanya 20, sementara perguruan tinggi yang berjumlah empat ditutup.
Kehidupan sosial budaya:
a. Pada zaman belanda kehidupan masyarakat di klasifikasikan sebagai berikut
1. belanda sebagai warga kelas satu
2. bangsa timur asing sebagai warga kelas dua
3. pribumi sebagai warga kelas tiga

b. Pada zaman jepang, struktur masyarakat berubah
1. bangsa jepang sebagai warga kelas satu
2. pribumi sebagai warga kelas dua
3. bangsa timur asing sebagai wargaa kelas tiga

Pengertian nasionalisme positif adalah cinta tanah air dan bangsanya tetapi tidak memandang rendah negara lain
Pengertian nasionalis me negatif adalah cinta tanah air dan bangsanya tetapi memandang rendah negara lain
Kedudukan kaum perempuan pada abad ke_19 masih rendah dibandingkan dengan kedudukan laki-laki.
Tradisi pingitan tersebut lebih menonjol pada anak-anak gadis. Pingitan ini tentu saja akan memutuskan komunikasi antara kaum perempuan dan dunia di sekelilingnya.
Kondisi ini diperkuat oleh sturktur sosial masyarakat feodal di jawa yang menempatkan perempuan di bawah posisi laki-laki
Salah satu adat yang berkembang pada saat itu adalah kawin paksa, dan poligami. Tradisi ini tidak hanya berkembang pada masyarakat kelas bawah, tetapi juga dikalangan bangsawan.
Poligami sistem perseliran, dan perceraiaan merupakan kesengsaraan bagi kaum perempuan karena dampaknya adalah mengkondisikan mereka terjeruus kearah prostitusi.
Keterlibatan kaum wanita dalam pergerakan nasional pada mulanya hanya berupa pergerakan sosial yang memperjuangkan kedudukan wanita dalam masyarakat.
Pergerakan emansipasi wanita pada intinya ingin mencapai persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan.
Tokoh emansipasi wanita adalah RA. Kartini. Beliau seorang putri Bupati Jepara. Nama suami dari RA. Kartini adalah Raden Adipati Tirtoyadiningrat.
Buku yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini tentang berbagai buah pikirannya adalah barjudul Habis gelap terbitlah terang.
Pergerakan emansipasi ini dipelopori oleh RA Kartini, dewi Sartika, dan Maria walanda maramis.
Tokoh perempuan yang melanjutkan gerakan emansipasi adalah RA Sabarudin, RA Sutinah Joyopranoto, RR Rukmini, dan Sadikin tondokusumo.

No comments:

Post a Comment

Follow by Email

Sponsored Ads